Gue mau seriusan, mau bahas sedikit tentang HATI.
Dan kalau bicara tentang Hati, pasti tidak akan lepas dari CINTA.
Lanjut ke CINTA, bicara tentang TINJA.
Karena pada kodratnya CINTA akan berubah jadi TINJA.
Tapi tetep aja sih nggak akan ada hubungannya sama KEGANTENGAN gue, karena ini emang udah dari sononya.
Dan kenapa harus merah? Karena itu semua memang membara, kayak KEGANTENGAN gue contohnya.
Kalau kanapa gue kasih warna hitam? Ya itu emang sesuai warnanya.
Fokus lagi ke awal, HATI.
Organ tersensitif dari manusia selain titit adalah HATI, hati ini sangatlah rentan.
Rapuh, mudah terluka, dan sangat lembut. Beda dengan titit yang hanya kalah dengan sentuhan, yang hanya bisa peka saat dipegang, lalu tidak mau bertanggung jawab kalau sudah keluar.
Selain itu titit hanya bisa diam, hanya bisa bergerak karena nafsu.
Sangat beda dengan HATI, sangat peka terhadap apapun, tanpa dipegang akan segera bertindak.
Tapi HATI sangat rentan dengan penyakit, ini sama kayak titit.
Masalah sekecil apapun itu tak akan bisa segera hilang, hanya setitik namun bisa jadi sekaleng.
Oh HATI, andai aku bisa menghilangkanmu dari tubuhku.
Mungkin sekarang aku tidak akan bisa merasakan ini, suka, cinta, sayang, bahkan sukar.
Andai aku tidak memilikimu, mungkin aku tidak akan pernah mengenal apa itu sayang, apa itu senyum, dan apa itu luka?
Tapi berkat dirimu, aku bisa merasakannya.
Indah cinta yang diberinya untukku, rasa sayang yang selalu menyelimutiku, bahkan luka yang selalu disampingku.
Ku ingat dulu, saat pertama HATI ini berdetak saat melihatnya.
Makin lama makin cepat, semakin bertambah cepat saat di mendekat.
Dan ketika kami saling mengenal, HATI kami pun mulai menyatu.
Radiasi HATInya sudah merasuk dalam nadi HATIku, serasa tak bisa lepas.
Namun semua tak lama, ketika kebodohanku mulai datang.
Ketika kesalahan yang dulu tak terelakkan lagi, ketika aku mengulai kebodohan hidupku lagi.
HATInya mulai menjauh, detak ini mulai lagi.
Kali ini bertambah cepat ketika dia makin menjauh, makin cepat sampai rasa itu akhirnya datang.
Rasa yang tak pernah ku kira awalnya, rasa yang menurutku hanya basi semata.
Namun semua itu nyata, nyata ketika radiasi HATInya sudah hilang.
Ketika yang datang hanya rasa sesak, sesak dalam HATI yang membuat semua organ tergoncang.
Tak sanggup menggerakan kedua mata, hanya bisa terdiam dan tersesal.
Menyesali segala kesalahan, kebodohan, bahkan kemunafikan yang pernah ada.
Kini HATIku sendiri lagi, menepi dan tetap mencari.
Segala bentuk kesenangan yang mungkin itu hanya sementara, mencoba mengobati sakit ini.
Kini, aku tahu segalanya.
Namun apakah HATIku sudah siap merasakannya lagi, apakah dia sudah siap untuk bahagia lagi, sudah siap berdegup lebih kencang lagi, dan tentu saja siap dengan segala sakit yang akan melanda?
Oh Tuhan, berikanlah itu padaku.
Kekuatan itu, menahan segala yang akan datang.
Tapi bagaimana dengannya, dia yang pernah menyakitiku, yang membiarkanku sibuk memerangi sakit ini?
Aku hanya bisa berdoa untuknya, berilah dia apa yang selama ini dia inginkan.
Apa yang selama ini belum bisa aku berikan untuknya.
Jangan biarkan dia merasakan apa yang aku rasakan, hindarkanlah rasa sakit itu darinya.
Dan semoga aku menemukan lagi yang seperti dia.
Sekian dari gue tentang HATI, gue udah habis tissue seAlfamart ini.
Dada byeybye.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar